Kamis, 07 Juni 2012

TEORI BANDURA


BAB II
PEMBAHASAN

A.  Teori Belajar Sosial (Albert Bandura)
            Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya.  Albert Bandura lahir tanggal 4 Desember 1925 di Mundare Alberta berkebangsaan Kanada.  Ia seorang psikolog yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri.  Ekperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll yang menunjukkan anak meniru secara persis perilaku agresif dari orang dewasa disekitarnya.
            Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Menurut Bandura proses mengamati dan meniru perilaku, sikap orang lain sebagai model merupakan tindakan belajar.  Bandura (1977) menyatakan bahwa  “Learning would be exceedingly laborious, not to mention hazardous, if people had to rely solely onthe effects of their own action to inform them what to do.  Fortunately, most humant behavior is learned observationally through modelling: from observing others one forms an idea of hor new behavior are performed, and on later occation this coded information serves as aguide for action”.
            Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku dan pengaruh lingkungan.  Kondisi lingkungan sekitar individu sangat berpengaruh pada pola belajar sosial ini.  Misalnya seorang yang hidup dan lingkungannya dibesarkan dilingkungan judi, maka dia cenderung menyenangi judi, atau sekitarnya menganggap bahwa judi itu tidak jelek.
Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.
Bandura sebagai seorang behavioris moderat penemu teori social learning/ observational learning, setiap proses belajar terjadi dalam urutan tahapan peristiwa (4 unsur utama) yang meliputi:
Ø  Perhatian (attentian)
Ø  Penyimpangan atau proses mengingat (retention)
Ø  Reproduksi motorik (reproduction)
Ø  Peneguhan/Motivasi (reinforcement/motivation)
Tahap - tahap di atas berawal dari adanya peristiwa stimulus atau sajian perilaku model dan berakhir dengan penampilan atau kinerja (performance) tertentu sebagai hasil/ perolehan belajar seorang siswa.
Ø  Tahap perhatian
Mencakup peristiwa peniruan (adanya kejelasan, keterlibatan perasaan, tingkat kerumitan, kelaziman, nilai fungsi) dan karakteristik pengamatan (kemampuan indera, minat, persepsi, penguatan sebelumnya).
Ø  Tahap mengingat
Mencakup kode pengkodean simbolik, pengorganisasian pikiran, pengulangan simbol, pengulangan motorik. 
Ø  Tahap reproduksi
Mencakup kemampuan fisik, kemampuan meniru, keakuratan umpan balik.  
Ø  Tahap motivasi
Mencakup dorongan dari luar dan penghargaan terhadap diri sendiri.
            Ciri-ciri Teori Pemodelan Bandura:
Ø  Unsur pembelajaran utama ialah pemerhatian dan peniruan.
Ø  Tingkah laku model boleh dipelajari melalui bahasa, misalan dan teladan.
Ø  Pelajar meniru sesuatu kemahiran dari pada kecakapan demontrasi guru sebagai model.
Ø  Pelajar memperoleh kemahiran jika memperoleh kepuasan dan peneguhan yang berpatutan.
Ø  Proses pembelajaran meliputi pemerhatian, peringatan, peniruan dengan tingkah laku atau gerak balas yang sesuai, diakhiri dengan peneguhan positif.
            Implikasi Teori Pemodelan Bandura:
Ø  Penyampaian guru hendaklah cakap dan menarik agar dapat menjadi role model kepada pelajar.
Ø  Demontrasi guru hendaklah jelas serta menarik agar pelajar dapat meniru dengan cepat.
Ø  Hasilan guru dapat kraftangan, lukisan atau ABM hendaklah bermutu tinggi.
Ø  Guru boleh menggunakan rekan sebaya yang cemerlang sebagai model.
Ø  Guru boleh mengajar nilai murni dan watak bersejarah dengan teknik main peranan dan simulasi.

B.  Teori Konstruktivisme Sosial (Lev Vygotsky)
Sebelum membahas lebih jauh tentang Teori Konstruktivisme  Vygotsky, sedikit kami paparkan tentang biografi Lev Vygotsky.  Vygostsky adalah seorang sarjana Hukum, tamat dari Universitas Moskow pada tahun 1917, kemudian beliau melanjutkan studi dalam bidang filsafat, psikologi, dan sastra pada fakultas Psikologi Universitas Moskow dan menyelesaikan studinya pada tahun 1925 dengan judul disertasi ’The Psychology of Art´. Dengan latar belakang ilmu yang demikian banyak memberikan inspirasi pada pengembangan teknologi pembelajaran, bahasa,  psikologi pendidikan, dan berbagai teori pembelajaran.
Vygotsky wafat pada tahun 1934. Vygotsky menekankan pentingnya memanfaatkan lingkungan dalam pembelajaran. Lingkungan sekitar siswa meliputi orang-orang, kebudayaan, termasuk pengalaman dalam lingkungan tersebut. Orang lain merupakan bagian dari lingkungan (Taylor, 1993), pemerolehan pengetahuan siswa bermula dari lingkup sosial, antar orang, dan kemudian pada lingkup individu sebagai peristiwa internalisasi (Taylor, 1993).
Vygotsky menekankan pada pentingnya hubungan antara individu dan lingkungan sosial dalam pembentukan pengetahuan yang menurut beliau, bahwa interaksi sosial yaitu interaksi individu tersebut dengan orang lain merupakan faktor  terpenting yang dapat memicu perkembangan kognitif seseorang.
Vygotsky berpendapat bahwa proses belajar akan terjadi secara efisien dan efektif apabila anak belajar secara kooperatif dengan anak-anak lain dalam suasana dan lingkungan yang mendukung (supportive), dalam bimbingan seseorang yang lebih mampu, guru atau orang dewasa. Dengan hadirnya teori konstruktivisme Vygotsky ini, banyak pemerhati pendidikan yang mengembangkan model pembelajaran kooperatif, model pembelajaran peer interaction, model pembelajaran kelompok, dan model pembelajaran problem solving.
Konstruktivisme menurut pandangan Vygotsky menekankan pada pengaruh budaya. Vygotsky berpendapat fungsi mental yang lebih tinggi bergerak antara inter-psikologi (interpsychological) melalui interaksi sosial dan intra-psikologi (intrapsychological) dalam benaknya. Internalisasi dipandang sebagai transformasi dari kegiatan eksternal ke internal. Ini terjadi pada individu bergerak antara inter-psikologi (antar orang) dan intra-psikologi (dalam diri individu).
Berkaitan dengan perkembangan intelektual siswa, Vygotsky mengemukakan dua ide;
1.   Bahwa perkembangan intelektual siswa dapat dipahami hanya dalam konteks budaya dan sejarah pengalaman siswa (Van der Veer dan Valsiner dalam Slavin, 2000).
2.   Vygotsky mempercayai bahwa perkembangan intelektual bergantung pada sistem tanda (sign system) setiap individu selalu berkembang  (Ratner dalam Slavin, 2000: 43).  Sistem tanda adalah simbol-simbol yang secara budaya diciptakan untuk membantu seseorang berpikir, berkomunikasi, dan memecahkan masalah, misalnya budaya bahasa, sistem tulisan, dan sistem perhitungan.
Berkaitan dengan pembelajaran, Vygotsky mengemukakan empat prinsip seperti yang dikutip oleh (Slavin, 2000: 256) yaitu:
1.   Pembelajaran sosial (social leaning).
2.   ZPD (zone of proximal development).
3    Masa Magang Kognitif (cognitif apprenticeship).
4    Pembelajaran Termediasi (mediated learning).
Inti teori   Vygotsky adalah menekankan interaksi antara aspek internal dan eksternal dari pembelajaran dan penekanannya pada lingkungan sosial pembelajaran. Menurut teori Vygotsky, fungsi kognitif manusia berasal dari interaksi sosial masing-masing individu dalam konteks budaya. Vygotsky juga yakin bahwa pembelajaran terjadi saat siswa bekerja menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas tersebut masih dalam jangkauan kemampuannya atau tugas-tugas itu berada dalam zona of proximal development mereka.

C.  Hubungan Teori Bandura dan Teori Vygotsky
Teori belajar Bandura menjelaskan bahwa individu belajar karena adanya contoh dilingkungan dan interaksi belajar antara individu dengan lingkungannya tadi akan dipadukan dengan kognitif yang ada dalam diri individu tersebut.  Kemudian kognitif dalam diri individu ini akan menentukan apa yang dilakukan selanjutnya.  Didalam teori ini, individu hanya diajak untuk berfikir mana yang baik dan mana yang buruk dari hasil interaksinya dengan lingkungan, yang kemudian diwujudkan dalam tingkah lakunya.
Namun pada teori belajar Vygotsky individu yang telah berinteraksi dengan lingkungannya dan memadukannya dengan kognitif yang telah ada sebelumnya bukan saja sekedar berfikir untuk memilih mana yang baik dan mana yang tidak baik, tetapi juga individu tersebut harus mampu berfikir kritis dan kreatif terhadap permasalahan yang dihadapi dari interaksi dengan lingkungannya serta mampu mengembangkan diri untuk lebih produktif di dalam proses belajarnya.






Komunikasi Intrapersonal dan Komunikasi Interpersonal



BAB  I
PENDAHULUAN

1.1        Latar Belakang Masalah
Sebagai makhluk sosial, kita memerlukan komunikasi dengan orang lain, entah secara pribadi antara dua orang, dengan beberapa orang, dengan sejumlah kecil orang, atau dengan sejumlah besar orang dan massa. Sebagai makhluk sosial, kita merasa perlu berhubungan dengan orang lain. Kita memerlukan hubungan dan ikatan emosional dengan mereka. Hubungan kita dengan orang lain berbeda tingkat keeratan dan rasa keterikatannya. Di antara orang-orang lain itu, ada yang sekadar menjadi orang lain bagi kita. Mereka menjadi orang asing yang tidak kita kenal.  Pergaulan manusia merupakan salah satu bentuk peristiwa komunikasi dalam masyarakat.
Manusia tidak bisa hidup sendirian. Ia secara kodrati harus hidup bersama manusia lain, baik demi kelangsunagn hidupnya, keamanan hidupnya, maupun demi keturunannya. Jelasnya manusia harus hidup bermasyarakat. Masyarakat bisa berbentuk kecil dan bisa berbentuk besar. Komunikasi pribadi (personal commication) adalah komunikasi seputar diri seseorang, baik dalam fungsinya sebagai komunikator maupun sebagai komunikan. Tatanan komunikasi (setting of communication) ini terdiri dari dua jenis, yakni komunikasi intrapribadi dan komunikasi antar pribadi. Kegiatan komunikasi interpersonal merupakan kegiatan sehari-hari yang paling banyak dilakukan oleh manusia sebagai mahluk sosial. Sejak bangun tidur di pagi hari sampai tidur lagi di larut malam, sebagian besar dari waktu kita digunakan untuk berkomunikasi dengan manusia yang lain.
Dengan demikian kemampuan berkomunikasi merupakan suatu kemampuan yang paling dasar. Akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita sering mengalami perbedaan pendapat, ketidaknyamanan situasi atau bahkan terjadi konflik yang terbuka yang disebabkan adanya kesalahfahaman dalam berkomunikasi. Menghadapi situasi seperti ini, manusia baru akan menyadari bahwa diperlukan pengetahuan mengenai bagaimana cara berkomunikasi yang baik dan efektif.yang harus dimiliki seorang manusia. Efektifitas seorang komunikator dapat dievaluasi dari sudut sejauhmana tujuan-tujuan tersebut dicapai.
Persyaratan untuk keberhasilan komunikasi adalah mendapat perhatian. Jika pesan disampaikan tetapi penerima mengabaikannya, maka usaha komunikasi tersebut akan gagal.
Keberhasilan komunikasi juga tergantung pada pemahaman pesandan penerima. Jika penerima tidak mengerti pesan tersebut,maka tidaklah mungkin akan berhasil dalam memberikan informasi atau mempengaruhinya. Bahkan jika suatu pesan tidak dimengerti, penerima mungkin tidak meyakini bahwa informasinya benar, sekalipun komunikator benar-benar memberikan arti apa yang dikatakan. Kemampuan berkomunikasi interpersonal yang baik dan efektif sangat diperlukan oleh manusia agar dia dapat menjalani semua aktivitasnya dengan lancar. Terutama ketika seseorang melakukan aktivitas dalam situasi yang formal, misal dalam lingkungan kerja. Lebih penting lagi ketika aktivitas kerja seseorang adalah berhadapan langsung dengan orang lain dimana sebagian besar kegiatannya merupakan kegiatan komunikasi interpersonal.
Agar komunikasi dapat berjalan lancar, maka dibutuhkan keahlian dalam berkomunikasi( communication skill). Dan tidaklah semua orang memiliki communication skill. Banyak orang yang berkomunikasi hanya mengandalkan gaya yang dipakai sehari-hari. Mereka menganggap cara komunikasi yang mereka pakai sudah benar. Padahal kalau dicermati masih banyak kesalahan dalam berkomunikasi.

1.2    Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah  maka yang menjadi masalah dalam makalah ini adalah :
1.      Apakah pengertian dari Komunikasi Intrapersonal dan komunikas Interpersonal?
2.      Hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam komunikasi Intrapersonal dan komunikasi interpersonal?
3.      Bagaimana pentingnya  komunikasi Intrapersonal dan komunikasi interpersonal dalam komunikasi?

1.3    Tujuan Pembahasan
Berdasarkan perumusan masalah diatas maka pembahasan ini bertujuan untuk:
1.      Mengetahui pengertian dari Komunikasi Intrapersonal dan komunikas Interpersonal
2.      Mengetahui hal-hal yang harus diperhatikan dalam dalam komunikasi Intrapersonal dan komunikasi interpersonal
3.      Mengetahui pentingnya  komunikasi Intrapersonal dan komunikasi interpersonal dalam komunik

1.4    Manfaat Pembahasan
         Manfaat yang dapat diperoleh melalui pembahasan ini adalah:
1.      Memberi pengetahuan bagi para mahasiswa pengertian Komunikasi Intrapersonal dan komunikasi Interpersonal
2.      Memberi pandangan bagi mahasiswa hal-hal yang harus diperhatikan dalam dalam komunikasi Intrapersonal dan komunikasi interpersonal
3.      Memberi pengetahuan bagi mahasiswa pentingnya komunikasi Intrapersonal dan komunikasi interpersonal dalam komunikasi











BAB  II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Komunikasi Intrapersonal
Komunikasi intrapribadi (Intrapersonal Communication) adalah komunikasi yang berlangsung dalam diri seseorang. Orang itu berperan sebagai komunikator maupun sebagai komunikan. Dia berbicara dengan dirinya sendiri, dia berdialog dengan dirinya sendiri. Dia bertanya kepada dirinya dan dijawab oleh dirinya sendiri. Memang tidak salah kalau komunikasi intrapribadi disebut melamun, tetapi jika melamun bisa mengenai segala hal misalnya melamun jadi orang kaya, melamun kawin lagi dan sebagainya. Komunikasi intrapribadi berbicara dengan diri sendiri dalam rangka berkomunikasi dengan orang lain, dan orang lain ini bisa satu orang, sekelompok orang atau masyarakat keseluruhan. Jadi sebelum berkomunikasi dengan orang lain seseorang melakukan komunikasi intrapribadi dahulu.
Disaat kita sedang berbicara kepada diri kita sendiri, sedang melakukan perenungan, perencanaan, dan penilaian pada diri kita terjadi proses neuro-fisiologis yang membentuk landasan bagi tanggapan, motivasi, dan komunikasi kita dengan orang-orang atau faktor-faktor di lingkungan kita (Casmir : 1974, 37). Mampu berdialog dengan diri sendiri berarti mampu mengenal diri sendiri. Belajar mengenal diri sendiri berarti belajar bagaimana kita berpikir dan berasa, bagaimana kita mengamati, menginterpretasikan dan bereaksi di lingkungan kita.
Dalam komunikasi intrapersonal, akan dijelaskan bagaimana orang menerima informasi, mengolahnya, menyimpannya dan menghasilkannya kembali. Proses pengolahan informasi, yang di sini kita sebut komunikasi intrapersonal meliputi sensasi, persepsi, memori, dan berpikir.
1.      Sensasi
Sensasi berasal dari kata “sense” yang artinya alat pengindraan, yang menghubungkan organisme dengan lingkungannya. Menurut Dennis Coon, “Sensasi adalah pengalaman elementer yang segera, yang tidak memerlukan penguraian verbal. Simbolis, atau konseptual, dan terutama sekali berhubungan dengan kegiatan alat indera.” Definisi sensasi, fungsi alat indera dalam menerima informasi dari lingkungan sangat penting. Kita mengenal lima alat indera atau pancaindera. Kita mengelompokannya pada tiga macam indera penerima, sesuai dengan sumber informasi
2.      Persepsi
Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi (sensory stimuli). Sensasi adalah bagian dari persepsi. Persepsi, seperti juga sensasi ditentukan oleh faktor personal dan faktor situasional. Faktor lainnya yang memengaruhi persepsi, yakni perhatian.
3.      Perhatian (Attention)
Perhatian adalah proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi menonjol dalam kesdaran pada saat stimuli lainnya melemah

B.     Pengertian Komunikasi Antarpribadi (Interpersonal Communication)
Komunikasi dapat didefinisikan sebagai penyampaian informasi antara dua orang atau lebih. Komunikasi merupakan suatu proses yang vital dalam organisasi karena komunikasi diperlukan bagi efektifitas kepemimpinan, perencanaan, pengendalian, koordinasi, latihan, manajemen konfilk, serta proses-proses organisasi lainnya. Komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) didefenisikan oleh Joseph A.Devito dalam bukunya “The Interpersonal Communication Book” sebagai berikut : “Proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau diantara sekelompok kecil orang-orang dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik seketika.
Komunikasi interpersonal biasanya didefinisikan oleh komunikasi utama dalam berbagai cara, biasanya menggambarkan peserta yang tergantung pada satu sama lain dan memiliki sejarah bersama. Hal ini dapat melibatkan satu pada satu percakapan atau individu berinteraksi dengan banyak orang dalam masyarakat. Ini membantu kita memahami bagaimana dan mengapa orang berperilaku dan berkomunikasi dengan cara yang berbeda untuk membangun dan menegosiasikan realitas sosial .
Komunikasi interpersonal adalah termasuk pesan pengiriman dan penerimaan pesan antara dua atau lebih individu. Hal ini dapat mencakup semua aspek komunikasi seperti mendengarkan, membujuk, menegaskan, komunikasi nonverbal, dan banyak lagi. Sebuah konsep utama komunikasi interpersonal terlihat pada tindakan komunikatif ketika ada individu yang terlibat tidak seperti bidang komunikasi seperti interaksi kelompok, dimana mungkin ada sejumlah besar individu yang terlibat dalam tindak komunikatif. Deddy Mulyana (2005) menyatakan: “komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal ataupun nonverbal.”
Individu juga berkomunikasi pada tingkat interpersonal berbeda tergantung pada siapa mereka terlibat dalam komunikasi dengan. Sebagai contoh, jika seseorang berkomunikasi dengan anggota keluarga, bahwa komunikasi akan lebih dari mungkin berbeda dari jenis komunikasi yang digunakan ketika terlibat dalam tindakan komunikatif dengan teman atau penting lainnya. Secara keseluruhan, komunikasi interpersonal dapat dilakukan dengan baik dan tidak langsung media komunikasi langsung seperti tatap muka interaksi, serta komputer-mediated-komunikasi.
Sukses mengasumsikan bahwa baik pengirim pesan dan penerima pesan akan menafsirkan dan memahami pesan-pesan yang dikirim pada tingkat mengerti makna dan implikasi. Tujuan komunikasi boleh jadi memberikan keterangan tentang sesuatu kepada penerima, mempengaruhi sikap penerima, memberikan dukungan psikologis kepada penerima, atau mempengaruhi penerima.
Pentingnya komunikasi antarpribadi adalah karena prosesnya memungkinkan berlangsung secara dialogis. Dialog adalah bentuk komunikasi antarpribadi yang menunjukkan terjadinya interaksi. Dalam proses komunikasi dialogis nampak adanya upaya dari para pelaku komunikasi untuk terjadinya pengertian bersama (mutual understanding) dan empati. Beberapa faktor seputar komunikasi antarpribadi adalah sebagai berikut :
  1. Keampuhan komunikasi antarpribadi
Dibandingkan dengan bentuk-bentuk komunikasi lainnya, komunikasi antarpribadi dinilai paling ampuh dalam kegiatan mengubah sikap, kepercayaan, opini dan perilaku komunikan. Alasannya adalah sebagai berikut :
Ø  Komunikasi berlangsung tatap muka
Komunikasi antarpribadi umumnya berlangsung secara tatap muka (face to face). Oleh karena anda dengan komunikan saling bertatap muka, maka terjadilah kontak pribadi (personal contact). Oleh karena keampuhan dalam mengubah sikap, kepercayaan, opini, dan perilaku komunikan itulah maka bentuk komuniakasi antarpribadi acapkali dipergunakan untuk melancarkan komunikasi persuasif (persuasive communication) yakni suatu teknik komunikasi secara psikologis manusiawi yang sifatnya halus, luwes berupa ajakan, bujukan atau rayuan.

  1. Jenis-jenis komunikasi antarpribadi
Secara teoritis komunikasi antarpribadi diklasifikasikan menjadi dua jenis menurut sifatnya yaitu :

1.      Komunikasi diadik (dyadic communication)
Komunikasi diadik adalah komunikasi antarpribadi yang berlangsung antara dua orang yakni yang seorang adalah komunikator yang menyampaikan pesan dan yang seorang lagi komunikan yang menerima pesan. Oleh karena perilaku komunikasinya dua orang, maka dialog yang terjadi berlangsung secara intens. Komunikator memusatkan perhatiannya hanya kepada diri komunikan seorang itu.

2.      Komunikasi triadik (triadic communication)         
Komunikasi  triadic adalah komunikasi antarpribadi yang pelakunya terdiri dari tiga orang, yakni seorang komunikator dan dua orang komunikan. Jika A yang menjadi komunikator maka ia yang pertama-tama menyampaikan kepada komunikan B, kemudian kalau dijawab atau ditanggapi beralih kepada komunikan C juga secara berdialogis.
            Apabila dibandingkan dengan komunikasi triadik, maka komunikasi diadik lebih efektif karena komunikator memusatkan perhatiannya kepada seorang komunikan, sehingga ia dapat menguasai frame of reference komunikan sepenuhnya, juga umpan balik yang berlangsung, kedua faktor yang sangat berpengaruh terhadap efektif tidaknya proses komunikasi. Demikianlah kelebihan, keuntungan, dan kekuatan komunikasi antarpribadi dibandingkan dengan bentuk-bentuk komunikasi lainnya.

c.                  Faktor homophily- heterophily empathy
            Komunikasi yang efektif menurut Mc.Crosky, Larson, dan Knapp dapat dicapai dengan mengusahakan accuracy yang paling tinggi derajatnya dalam setiap situasi. Untuk kesamaan dan ketidaksamaan dalam derajat pasangan komunikator dan komunikan dalam proses komunikasi, Everett M.Rogers mengetengahkan istilah homophily dan heterophily yang dapat memperjelas ehubungan komunikator dan komunikan dalam proses komunikasi antarpribadi.
            Homophily adalah sebuah istilah yang menggambarkan derajat pasangan perorangan yang berinterasi yang memiliki kesamaan dalam sifatnya (attribute), seperti kepercayaan, nilai pendidikan, status social, dan sebagainya. (istilah homophily berasal dari Yunani “homoios” yang berarti “sama”. Jadi secara harfiah, homophily berarti komunikasi dengan orang yang sama.
            Heterophily kebalikan dari homophily, didefenisikan derajat pasangan orang-orang yang berinteraksi yang berada dalam sifat-sifat tertentu. Dalam situasi bebas memilih, dimana komunikator dapat berinteraksi dengan salah seorang dan sejumlah komunikan yang satu sama lain berbeda. Kenapa homophily terjadi? Orang-orang yang sama lebih mungkin termasuk kelompok yang sama, berdiam lebih berdekatan satu sama lain, dan tertarik oleh kepentingan yang sama. Kesamaan secara social ini menjurus ke homophily.
            Homophily dan komunikasi efektif saling memperkuat satu sama lain. Lebih sering berkomunikasi, lebih besar kemungkinan untuk menjadi homophily. Lebih bersifat homophily lebih besar kemungkinan untuk berkomunikasi secara efektif. Orang yang mengingkari homophily dan berusaha untuk berkomunikasi dengan orang yang berbeda dengannya dikecewakan oleh komunikasi yang tidak efektif.
            Dalam suatu sistem, homophily dapat menjadi rintangan bagi lajunya pembaruan yang cepat. Ide-ide baru biasanya masuk melalui anggota-anggota masyarakat yang statusnya lebih tinggi dan lebi berdaya inovasi. Menurut Lazarsfeld dan Merton, homophily dapat merupakan hasil dari interaksi atau merupakan dasar bagi pemilihan untuk berinteraksi. Dalam komunikasi antarpribadi terdapat pengaruh mempengaruhi antara kedua pihak dan lebih merupakan proses yang terus berlangsung daripada merupakan peristiwa yang statis.
            Seperti telah dijelaskan, kebanyakan komunikasi yang bersifat heterophily adalah komunikasi yang tidak efektif. Tetapi beberapa guru di pedesaan di Amerika Serikat telah sukses dalam komunikasinya. Kenapa? Salah satu sebab adalah kemampuan emphatic pihak komunikator. Jika seorang komunikator mempunyai emphaty yang mendalam dengan komunikan yang hetero, maka komunikator dan komunikan benar-benar berada dalam situasi homophily. Dengan demikian, penjelasan mengenai heterophily dan komunikasi tidak efektif menghendaki modifikasi sebagai berikut komunikasi heterophily kurang efektif dibandingkan komunikasi homophily, kecuali kalau komunikator mempunyai derajat emphaty yang tinggi dengan komunikan

Hubungan Interpersonal
Komunikasi yang efektif ditandai dengan hubungan interpersonal yang baik. Kegagalan komunikasi sekunder terjadi, bila isi pesan kita dipahami, tetapi hubungan di antara komunikan menjadi rusak. Anita Taylor mengatakan Komunikasi interpersonal yang efektif meliputi banyak unsur, tetapi hubungan interpersonal barangkali yang paling penting.
Untuk menumbuhkan dan meningkatkan hubungan interpersonal, kita perlu meningkatkan kualitas komunikasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi komunikasi interpersonal adalah:
1. Percaya (trust)
Bila seseorang punya perasaan bahwa dirinya tidak akan dirugikan, tidak akan dikhianati, maka orang itu pasti akan lebih mudah membuka dirinya. Percaya pada orang lain akan tumbuh bila ada faktor-faktor sebagai berikut:
a. Karakteristik dan maksud orang lain, artinya orang tersebut memiliki kemampuan, keterampilan, pengalaman dalam bidang tertentu. Orang itu memiliki sifat-sifat bisa diduga, diandalkan, jujur dan konsisten.
b. Kualitas komunikasi dan sifatnya mengambarkan adanya keterbukaan. Bila maksud dan tujuan sudah jelas, harapan sudah dinyatakan, maka sikap percaya akan muncul.
2. Perilaku suportif akan meningkatkan kualitas komunikasi. Beberapa ciri perilaku suportif yaitu:
a. Evaluasi dan deskripsi: maksudnya, kita tidak perlu memberikan kecaman atas kelemahan dan kekurangannya.
b. Orientasi masalah: mengkomunikasikan keinginan untuk kerja sama, mencari pemecahan masalah. Mengajak orang lain bersama-sama menetapkan tujuan dan menetukan cra mencapai tujuan.
c. Spontanitas: sikap jujur dan dianggap tidak menyelimuti motif yang pendendam.
d. Empati: menganggap orang lain sebagai persona.
e. Persamaan: tidak mempertegas perbedaan, komunikasi tidak melihat perbedaan walaupun status berbeda, penghargaan dan rasa hormat terhadap perbedaan-perbedaan pandangan dan keyakinan.
f. Profesionalisme: kesediaan untuk meninjau kembali pendapat sendiri.
3. Sikap terbuka, kemampuan menilai secara obyektif, kemampuan membedakan dengan mudah, kemampuan melihat nuansa, orientasi ke isi, pencarian informasi dari berbagai sumber, kesediaan mengubah keyakinannya, profesional dll.
Komunikasi Interpersonal memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1.      Pihak-pihak yang melakukan komunikasi berada dalam jarak yang dekat.Pihak yang dapat dikatakan melakukan komunikasi interpersonal harus tidak berada dalam jarak jauh melainkan saling berdekatan/ face to face. Apabila salah satu lawan bicara menggunakan media dalam penyampaian pesan karena perbedaan jarak, itu tidak dapat dikatakan sebagai komunikasi interpersonal.
2.      Pihak-pihak yang berkomunikasi  mengirim dan menerima pesan secara spontan baik secara verbal maupun non verbal.Di dalam komunikasi interpersonal feed back yang diberikan oleh komunikan biasanya secara spontan begitu juga dengan tanggapan dari komunikator. Dengan respon yang diberikan secara spontan dapat mengurangi kebohongan salah satu lawan bicara dengan cara melihat gerak gerik ketika sedang berkomunikasi.
3.      Keberhasilan komunikasi menjadi tanggung jawab  para peserta komunikasi.Mutual understandingakan diperoleh dalam komunikasi interpersonal ini, apabila diantara kedua belah pihak dapat menjalankan dan menerapkan komunikasi ini dengan melihat syarat-syarat yang berlaku seperti, mengetahui waktu, tempat dan lawab bicara.
4.      Kedekatan hubungan pihak-pihak komunikasi akan tercermin pada jenis-jenis pesan  atau respon nonverbal mereka, seperti  sentuhan, tatapan mata  yang ekspresif, dan jarak fisik yang dekat.Kita dapat membedakan seberapa dekat hubungan seseorang dengan lawan bicaranya, hal ini dapat dilihat dari respon yang diberikan. Misalnya kedekatan dalam berkomunikasi antara sepasang kekasih dengan sepasang persahabatan, melalui respon nonverbal kita dapat melihat mereka sepasang kekasih atau hanya teman biasa.
Meskipun setiap orang berhak mengubah topik  dalam pembicaraan, akan tetapi didalam kenyataannya komunikasi interpersonal bisa saja didominasi oleh satu pihak misalnya komunikasi dosen-murid didominasi oleh dosen, komunikasi suami-istri didominasi oleh suami. Didalam komunikasi interpersonal sering kali kita menggangap pendengaran dan penglihatan sebagai indera primer, padahal sentuhan dan penciuman juga sama pentingnya dalam menyampaikan pesan-pesan bersifat intim. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa komunikasi interpersonal sangat pontensial dalam hal membujuk lawan bicara kita.
Komunikasi interpersonal dikatakan lebih efektif dalam hal membujuk lawan bicara karena tanpa menggunakan media dalam penyampaian pesannya serta dapat langsung melihat reaksi dari lawan bicara. Komunikasi interpersonal sering dilakukan oleh semua orang dalam berhubungan dengan masyarakat luas.














BAB III
PENUTUP

  1. Kesimpulan
v  Komunikasi intrapribadi (Intrapersonal Communication) adalah komunikasi yang berlangsung dalam diri seseorang. Orang itu berperan sebagai komunikator maupun sebagai komunikan.
v  Komunikasi interpersonal adalah termasuk pesan pengiriman dan penerimaan pesan antara dua atau lebih individu. Hal ini dapat mencakup semua aspek komunikasi seperti mendengarkan, membujuk, menegaskan, komunikasi nonverbal , dan banyak lagi. Sebuah konsep utama komunikasi interpersonal terlihat pada tindakan komunikatif ketika ada individu yang terlibat tidak seperti bidang komunikasi seperti interaksi kelompok, dimana mungkin ada maka sejumlah besar individu yang terlibat dalam tindak komunikatif.

  1. Saran
Agar komunikasi dapat berjalan lancar dibutuhkan keahlian dalam berkomunikasi. Jika pesan disampaikan tetapi penerima mengabaikannya, maka usaha komunikasi itu akan gagal. Maka cara komunikasi yang benar harus dimiliki agar keberhasilan komunikasi tercapai.









DAFTAR PUSTAKA

Effendy, Onong Uchjana. 2003. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, Bandung, PT. Citra Aditya Bakti
Rakhmat, Jalaudin.1966.Psikologi Komunikasi.Bandung:Remaja Rosdakarya.
Muhammad, Arni.1995.Komunikasi organisasi.Jakarta:Bumi Aksara.
A.G.Lunadi.1987. Komunikasi Mengena.Yogyakarta:Kanisius.
www.wikipedia.comss
Buku Psikologi Komunikasi, karangan Drs. Jalaluddin Rahmat, M.Sc. Penerbit Rosda