Kamis, 07 Juni 2012

TEORI BANDURA


BAB II
PEMBAHASAN

A.  Teori Belajar Sosial (Albert Bandura)
            Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya.  Albert Bandura lahir tanggal 4 Desember 1925 di Mundare Alberta berkebangsaan Kanada.  Ia seorang psikolog yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri.  Ekperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll yang menunjukkan anak meniru secara persis perilaku agresif dari orang dewasa disekitarnya.
            Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Menurut Bandura proses mengamati dan meniru perilaku, sikap orang lain sebagai model merupakan tindakan belajar.  Bandura (1977) menyatakan bahwa  “Learning would be exceedingly laborious, not to mention hazardous, if people had to rely solely onthe effects of their own action to inform them what to do.  Fortunately, most humant behavior is learned observationally through modelling: from observing others one forms an idea of hor new behavior are performed, and on later occation this coded information serves as aguide for action”.
            Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku dan pengaruh lingkungan.  Kondisi lingkungan sekitar individu sangat berpengaruh pada pola belajar sosial ini.  Misalnya seorang yang hidup dan lingkungannya dibesarkan dilingkungan judi, maka dia cenderung menyenangi judi, atau sekitarnya menganggap bahwa judi itu tidak jelek.
Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.
Bandura sebagai seorang behavioris moderat penemu teori social learning/ observational learning, setiap proses belajar terjadi dalam urutan tahapan peristiwa (4 unsur utama) yang meliputi:
Ø  Perhatian (attentian)
Ø  Penyimpangan atau proses mengingat (retention)
Ø  Reproduksi motorik (reproduction)
Ø  Peneguhan/Motivasi (reinforcement/motivation)
Tahap - tahap di atas berawal dari adanya peristiwa stimulus atau sajian perilaku model dan berakhir dengan penampilan atau kinerja (performance) tertentu sebagai hasil/ perolehan belajar seorang siswa.
Ø  Tahap perhatian
Mencakup peristiwa peniruan (adanya kejelasan, keterlibatan perasaan, tingkat kerumitan, kelaziman, nilai fungsi) dan karakteristik pengamatan (kemampuan indera, minat, persepsi, penguatan sebelumnya).
Ø  Tahap mengingat
Mencakup kode pengkodean simbolik, pengorganisasian pikiran, pengulangan simbol, pengulangan motorik. 
Ø  Tahap reproduksi
Mencakup kemampuan fisik, kemampuan meniru, keakuratan umpan balik.  
Ø  Tahap motivasi
Mencakup dorongan dari luar dan penghargaan terhadap diri sendiri.
            Ciri-ciri Teori Pemodelan Bandura:
Ø  Unsur pembelajaran utama ialah pemerhatian dan peniruan.
Ø  Tingkah laku model boleh dipelajari melalui bahasa, misalan dan teladan.
Ø  Pelajar meniru sesuatu kemahiran dari pada kecakapan demontrasi guru sebagai model.
Ø  Pelajar memperoleh kemahiran jika memperoleh kepuasan dan peneguhan yang berpatutan.
Ø  Proses pembelajaran meliputi pemerhatian, peringatan, peniruan dengan tingkah laku atau gerak balas yang sesuai, diakhiri dengan peneguhan positif.
            Implikasi Teori Pemodelan Bandura:
Ø  Penyampaian guru hendaklah cakap dan menarik agar dapat menjadi role model kepada pelajar.
Ø  Demontrasi guru hendaklah jelas serta menarik agar pelajar dapat meniru dengan cepat.
Ø  Hasilan guru dapat kraftangan, lukisan atau ABM hendaklah bermutu tinggi.
Ø  Guru boleh menggunakan rekan sebaya yang cemerlang sebagai model.
Ø  Guru boleh mengajar nilai murni dan watak bersejarah dengan teknik main peranan dan simulasi.

B.  Teori Konstruktivisme Sosial (Lev Vygotsky)
Sebelum membahas lebih jauh tentang Teori Konstruktivisme  Vygotsky, sedikit kami paparkan tentang biografi Lev Vygotsky.  Vygostsky adalah seorang sarjana Hukum, tamat dari Universitas Moskow pada tahun 1917, kemudian beliau melanjutkan studi dalam bidang filsafat, psikologi, dan sastra pada fakultas Psikologi Universitas Moskow dan menyelesaikan studinya pada tahun 1925 dengan judul disertasi ’The Psychology of Art´. Dengan latar belakang ilmu yang demikian banyak memberikan inspirasi pada pengembangan teknologi pembelajaran, bahasa,  psikologi pendidikan, dan berbagai teori pembelajaran.
Vygotsky wafat pada tahun 1934. Vygotsky menekankan pentingnya memanfaatkan lingkungan dalam pembelajaran. Lingkungan sekitar siswa meliputi orang-orang, kebudayaan, termasuk pengalaman dalam lingkungan tersebut. Orang lain merupakan bagian dari lingkungan (Taylor, 1993), pemerolehan pengetahuan siswa bermula dari lingkup sosial, antar orang, dan kemudian pada lingkup individu sebagai peristiwa internalisasi (Taylor, 1993).
Vygotsky menekankan pada pentingnya hubungan antara individu dan lingkungan sosial dalam pembentukan pengetahuan yang menurut beliau, bahwa interaksi sosial yaitu interaksi individu tersebut dengan orang lain merupakan faktor  terpenting yang dapat memicu perkembangan kognitif seseorang.
Vygotsky berpendapat bahwa proses belajar akan terjadi secara efisien dan efektif apabila anak belajar secara kooperatif dengan anak-anak lain dalam suasana dan lingkungan yang mendukung (supportive), dalam bimbingan seseorang yang lebih mampu, guru atau orang dewasa. Dengan hadirnya teori konstruktivisme Vygotsky ini, banyak pemerhati pendidikan yang mengembangkan model pembelajaran kooperatif, model pembelajaran peer interaction, model pembelajaran kelompok, dan model pembelajaran problem solving.
Konstruktivisme menurut pandangan Vygotsky menekankan pada pengaruh budaya. Vygotsky berpendapat fungsi mental yang lebih tinggi bergerak antara inter-psikologi (interpsychological) melalui interaksi sosial dan intra-psikologi (intrapsychological) dalam benaknya. Internalisasi dipandang sebagai transformasi dari kegiatan eksternal ke internal. Ini terjadi pada individu bergerak antara inter-psikologi (antar orang) dan intra-psikologi (dalam diri individu).
Berkaitan dengan perkembangan intelektual siswa, Vygotsky mengemukakan dua ide;
1.   Bahwa perkembangan intelektual siswa dapat dipahami hanya dalam konteks budaya dan sejarah pengalaman siswa (Van der Veer dan Valsiner dalam Slavin, 2000).
2.   Vygotsky mempercayai bahwa perkembangan intelektual bergantung pada sistem tanda (sign system) setiap individu selalu berkembang  (Ratner dalam Slavin, 2000: 43).  Sistem tanda adalah simbol-simbol yang secara budaya diciptakan untuk membantu seseorang berpikir, berkomunikasi, dan memecahkan masalah, misalnya budaya bahasa, sistem tulisan, dan sistem perhitungan.
Berkaitan dengan pembelajaran, Vygotsky mengemukakan empat prinsip seperti yang dikutip oleh (Slavin, 2000: 256) yaitu:
1.   Pembelajaran sosial (social leaning).
2.   ZPD (zone of proximal development).
3    Masa Magang Kognitif (cognitif apprenticeship).
4    Pembelajaran Termediasi (mediated learning).
Inti teori   Vygotsky adalah menekankan interaksi antara aspek internal dan eksternal dari pembelajaran dan penekanannya pada lingkungan sosial pembelajaran. Menurut teori Vygotsky, fungsi kognitif manusia berasal dari interaksi sosial masing-masing individu dalam konteks budaya. Vygotsky juga yakin bahwa pembelajaran terjadi saat siswa bekerja menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas tersebut masih dalam jangkauan kemampuannya atau tugas-tugas itu berada dalam zona of proximal development mereka.

C.  Hubungan Teori Bandura dan Teori Vygotsky
Teori belajar Bandura menjelaskan bahwa individu belajar karena adanya contoh dilingkungan dan interaksi belajar antara individu dengan lingkungannya tadi akan dipadukan dengan kognitif yang ada dalam diri individu tersebut.  Kemudian kognitif dalam diri individu ini akan menentukan apa yang dilakukan selanjutnya.  Didalam teori ini, individu hanya diajak untuk berfikir mana yang baik dan mana yang buruk dari hasil interaksinya dengan lingkungan, yang kemudian diwujudkan dalam tingkah lakunya.
Namun pada teori belajar Vygotsky individu yang telah berinteraksi dengan lingkungannya dan memadukannya dengan kognitif yang telah ada sebelumnya bukan saja sekedar berfikir untuk memilih mana yang baik dan mana yang tidak baik, tetapi juga individu tersebut harus mampu berfikir kritis dan kreatif terhadap permasalahan yang dihadapi dari interaksi dengan lingkungannya serta mampu mengembangkan diri untuk lebih produktif di dalam proses belajarnya.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar